Kurikulum 2013: ‘Mind Set’ Guru Diubah

Siswa dididik mencari jalan menemukan pengetahuan. Foto Sekolahdasar.net

Siswa dididik mencari jalan menemukan pengetahuan. Foto Sekolahdasar.net

Oleh: Leo Sutrisno

Tahun ajaran baru telah dimulai. Para siswa kembali ke bangku sekolah. Di beberapa sekolah, awal tahun ajaran baru kali ini menjadi ‘istimewa’ karena proses pembelajarannya di dasarkan pada kurikulum baru, Kurikulum 2013.

Implementasi Kurikulum 2013 tidak seheboh yang diperkirakan orang sebelumnya. Di seluruh Indonesia hanya diberlakukan pada 6325 sekolah. Khusus di Kalbar ada 88 sekolah sasaran. Tentu, tidak tertutup kemungkinan sekolah-sekolah yang secara mandiri akan melakukannya.

Ke-88 sekolah ini terdiri atas: 37 SD, 25 SMP, 19 SMA dan 7 SMK. Tidak semua guru dan tidak semua siswa di sekolah itu yang menggunakan kurikulum baru. Kurikulum 2013 hanya diberlakukan di kelas-kelas I, IV, VII (SMP kelas 1), dan X (SMA/SMK kelas 1).

Sebagai persiapan, para guru yang mengajar di kelas-kelas ini telah mengikuti pelatihan pada tanggal 8-13 Juli 2013 yang lalu. Demikian juga para kepala sekolahnya. Buku siswa dan buku guru pun juga telah disediakan. Siswwa di sekolah sasaran menerima lengkap satu paket buku siswa. Sementara, para guru selain menerima buku siswa juga menerima buku guru yang berisi pedoman bagaimana pembelajaran harus dilakukan sesuai dengan sajian materi pada buku siswa. Dengan itu, persyaratan minimal telah tersedia. Sambil berjalan, akan dilengkapi sarana-sarana yang lain.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah ”Mengapa kurikulum harus diperbaharui?”. Tentu banyak jawaban yang ditawarkan. Tetapi, ada dua penjelasan yang sangat kuat nadanya. Pertama adalah telaah hasil pendidikan secara internasional. ’Hampir semua (95%) siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman’ (Mendikbud, 3 mei 2013, cetak tebal sesuai dengan aslinya). Ini berarti sebagian siswa hanya mampu menerapkan pengetahuan yang telah diperolehnya. Mereka belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan analisis, evaluasi, dan, apalagi, mencipta/berkreasi.

Kurikulum 2013 menyediakan ruang gerak bagi para siswa dan guru untuk mengembangkan kemampuannya di tingkat analisis, evaluasi dan berkreasi karena bahan ajar dikurangi tetapi jumlah jam pelajaran ditambah. Konsekuensinya, cara pembelajarannya harus berubah. Karena guru tinggal menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diharapkan mereka lebih banyak (90%) mengalokaasikan waktunya untuk pembelajaran sehingga lebih efektif.

Cara pembelajaran lama yang pada umumnya para guru lakukan adalah ‘memberi (penge)tahu(an)’ dan para siswa ‘menerima’. Cara belajar baru diarahkan agar para guru dan para siswa bersama-sama ‘mencari (penge)tahu(an)’. Guru mengajak para siswanya ‘mencari pengetahuan’. Tentu, tidak sekedar mengajak, tetapi juga memberi bimbingan, memberi arahan. Karena itu, guru tidak dapat lagi ‘berdiri di pinggir jalan dengan telunjuk jari menunjukkan’. Para guru harus berjalan bersama para siswanya.

Kebenaran sesuai situasi sesungguhnya sulit dicapai. Foto: Youtube.com

Kebenaran sesuai situasi sesungguhnya sulit dicapai. Foto: Youtube.com

Dengan model pembelajaran seperti ini, bukan pengetahuan yang diutamakan, tetapi proses menemukan pengetahuan. Di akhir dari pembelajaran para siswa diharapkan memiliki ketrampilan untuk mencari pengetahuan. Dengan cara seperti itu, para siswa dilatih mengembangkan ketrampilannya untuk mencari kebenaran.

Mengapa bukan pengetahuan yang menjadi tekanan utama? Karena, pengetahuan (bahan ajar) dari waktu ke waktu selalu berubah dan bertambah. Tidak mungkin sistem pendidikan selalu menambahkan bahan ajar yang baru setiap waktu. Bukan karena alasan teknis penambahannya, tetapi memang secara filosofis juga tidak diperlukan. Kebenaran faktual tidak mungkin ditemukan lengkap sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya. Setiap kali menemukan kebenaran (pengetahuan) yang baru, serta merta di sisi sebelahnya terlihat bagian yang belum diketahunya. Sisi yang terang berada langsung di sebelah sisi yang masih gelap. Akhirnya, pengetahuan tentang sesuatu tidak akan pernah lengkap seratus persen.

Alasan kedua kenapa ada perubahan kurikulum muncul dari keprihatinan masyarakat luas tentang perilaku orang Indonesia dewasa ini yang cenderung kasar dan meninggalkan tata sopan santun hidup bersama. Tindak kekerasan dapat ditemukan dimana saja, kapan saja dan dilakukan oleh siapa saja. Orang menuduh pendidikan Indonesia sebagai pihak yang bertanggungjawab. Pendidikan di Indonesia dituduh tidak menghasilkan manusia yang pandai serta baik budi bahasanya.

Dengan kurikulum baru, keprihatinan ini diakomodasi. Semua guru, dalam semua mata pelajaran harus memfasilatasi para siswanya tidak hanya dalam mengembangkan kemampuan intelektual tetapi juga dalam mengembangkan keluhuran budinya. Itu tercermin pada Kompetensi Inti 1 (sikap keagamaan) dan Kompetensi Inti 2 (sikap sosial). Kedua sikap ini tidak diajarkan langsung dalam sebuah mata pelajaran khusus. Tetapi, terkandung di dalam penanaman Kompetensi Inti 3 (pengetahuan) dan Kompetensi Inti 4 (penerapan pengetahuan) di setiap mata pelajaran. Dengan cara ini, penanaman kepribadian yang baik bukan hanya menjadi tugas para guru bidang moral tetapi menjadi tugas semua guru.

Dua perubahan pembelajaran yang mendasar seperti ini tentu tidak mudah dilaksanakan oleh para guru. Karena, mereka harus mengubah diri lebih dahulu. Orang bilang harus berubah ‘mind set’-nya. Mereka harus berubah dari ‘memberi (penge)tahu(an)’ kepada para siswanya ke ‘mencari (penge)tahu(an)’ bersama para siswanya. Dengan begitu, mereka mesti menempatkan dirinya sebagai ‘leader’/ pemimpin. Itu berarti ‘apa yang mereka ucapkan mesti apa yang mereka lakukan’.

Tentu bukan leader sembarang leader tetapi transforming leader. Setipa orang guru mesti visioner. Visinya mest dikomunikasikan secara terus menerus kepada para siswanya. Sembari mengkomunikasikan visinya, para guru berarti membangun relasi dengan para siswanya. Komunikasi yang intensif akan mengarah pada pemebntukan sebuah komunitas. Dalam kominitas itu terbangunlah suatu tata nilai yang dijunjung tinggi oleh semua anggota. Tentu, sebagai orang yang senior di kelasnya, para guru akan menjadi pembimbing bagi para siswanya. Itulah gambaran singkat jika seorang guru menjadi seorang transforming leader. Semoga!

Tulis komentar anda